amazing.indonesianforum.net
BICARAKAN APA YANG KAMU INGINKAN,
BERGABUNGLAH DI FORUM AMAZING.
amazing.indonesianforum.net-Google pagerank,alexa rank,Competitor
Latest topics
» Prabowo Subianto
Fri Jun 06, 2014 11:30 pm by Admin

» RAMALAN SHIO 2014
Sat Dec 28, 2013 6:13 pm by Admin

» RAMALAN ZODIAK 2014
Sat Dec 28, 2013 6:06 pm by Admin

» DNS Super Cepat
Thu Oct 17, 2013 12:30 am by Admin

» Misteri Stonehenge di Inggris.
Wed Aug 14, 2013 5:56 pm by Admin

» Lampu Besar di Piramida Mesir ?
Wed Aug 14, 2013 5:04 pm by Admin

» Keajaiban Tumbuhan Mencengangkan Para Ilmuan
Wed Aug 14, 2013 4:40 pm by Admin

» Facebook Messenger
Tue Aug 06, 2013 2:48 pm by Admin

» hot promo kingbookie bonus new member 10% + deposit selanjutnya 5%
Thu Jul 18, 2013 12:59 pm by xbot009

» Trik Download Video Youtube melalui Handphone
Thu Jul 04, 2013 4:55 pm by Admin

» Melihat Watak seseorang dari Huruf depan namanya.
Thu Jul 04, 2013 4:50 pm by Admin

» Beli jam tangan (rolex) gratis gelang kesehatan bio-g
Mon May 13, 2013 2:46 pm by arlojitop

» == Beli TAG HEUER GRATIS ALAT KESEHATAN ===
Mon May 13, 2013 2:20 pm by arlojitop

» Mengenal Tradisi Puasa Kejawen di Indonesia
Wed Apr 10, 2013 12:34 am by Admin

» Waspadalah terhadap Penipuan Online di Internet !
Tue Mar 19, 2013 6:47 pm by Admin

» BERITA UP TO DATE
Wed Mar 06, 2013 3:50 pm by Admin

» Cara Mendaftarkan Nama Perusahaan
Wed Mar 06, 2013 3:06 pm by Admin

» Mental Wirausaha Di Indonesia Masih Lemah
Wed Mar 06, 2013 3:00 pm by Admin

» Hanya Motif Prestasi Yang Membuat Berhasil, Bukan Motif Ekonomis!
Wed Mar 06, 2013 2:50 pm by Admin

» Sering Gagal? Mereka Juga Pernah Mengalaminya!
Wed Mar 06, 2013 2:44 pm by Admin

» Perusahaan sedang pailit: Apakah ini justru sebuah peluang?
Wed Mar 06, 2013 2:33 pm by Admin

» Trik Membidik Pasar Bagi Industri Kecil
Wed Mar 06, 2013 2:18 pm by Admin

» Internet Sebuah Revolusi Baru Bagi Industri Kecil
Wed Mar 06, 2013 2:14 pm by Admin

» Keuntungan dan Kerugian Hak Guna Bangunan (HGB)
Wed Mar 06, 2013 2:07 pm by Admin

» Aturan-Aturan Wajib dalam Jual-Beli Tanah dan Rumah
Wed Mar 06, 2013 1:44 pm by Admin

» Arti Kedutan Mata dan Bagian Tubuh Yang Lain.
Tue Feb 05, 2013 9:59 pm by Admin

» My Diary Blog
Mon Feb 04, 2013 2:17 am by coco.al.mahdi

» Deposito atau Investasi ?
Sun Feb 03, 2013 11:56 pm by Admin

» Ramalan Kehidupan di tahun 2013
Sun Dec 30, 2012 10:33 pm by Admin

» Ramalan Zodiak Anda di Tahun 2013.
Sun Dec 30, 2012 10:18 pm by Admin

» Arti TAHI LALAT pada diri Anda.
Sun Dec 30, 2012 9:51 pm by Admin

» Ramalan Shio Anda di tahun 2013.
Sun Dec 30, 2012 9:17 pm by Admin

» Apa itu Bakteri ?
Mon Dec 24, 2012 11:45 pm by Admin

»  Casino JACKPOT DARTS 12BET
Sat Dec 22, 2012 3:22 pm by mcloud

» Taruhan Bola 12BET LUCKY DRAW Hadiah Maksimum USD10,000
Sat Dec 22, 2012 3:22 pm by mcloud

» Prediksi Roma vs AC Milan
Sat Dec 22, 2012 3:22 pm by mcloud

» Prediksi Swansea City vs Manchester United
Sat Dec 22, 2012 3:22 pm by mcloud

» Prediksi Inter Milan vs Genoa Liga Italia
Sat Dec 22, 2012 3:22 pm by mcloud

» Semua PROMO di Sports 12BET
Thu Dec 20, 2012 1:55 pm by mcloud

» LIVE BACCARAT di 12BET CASINO
Thu Dec 20, 2012 1:54 pm by mcloud

» Chelsea Tantang Swansea, Bradford Jumpa Villa
Thu Dec 20, 2012 9:16 am by mcloud

» Indonesia Ungguli Malaysia di Ranking FIFA
Thu Dec 20, 2012 9:16 am by mcloud

» Milito Inginkan Destro Bermain di Inter
Thu Dec 20, 2012 9:15 am by mcloud

» 12BET - Situs Judi Bola Terpercaya
Tue Dec 18, 2012 1:04 pm by mcloud

» Game Slots ARCHER 12BET Casino
Tue Dec 18, 2012 1:03 pm by mcloud

» QPR Ingin Anelka dan Joe Cole di Bulan Januari
Tue Dec 18, 2012 12:59 pm by mcloud

» Reaksi Arsenal Puaskan Wenger
Tue Dec 18, 2012 12:59 pm by mcloud

» 'Ini Arsenal yang Dulu'
Tue Dec 18, 2012 12:58 pm by mcloud

» 33% BONUS SELAMAT DATANG
Mon Dec 17, 2012 2:44 pm by mcloud

» Gabung Kasino 12BET dan terima CASHBACK TANPA BATAS HARI INI!
Mon Dec 17, 2012 2:43 pm by mcloud

» O'Neill: Van Persie, Messi-nya MU
Mon Dec 17, 2012 2:36 pm by mcloud

» Chelsea Gagal Juara, Air Mata David Luiz Tumpah
Mon Dec 17, 2012 2:34 pm by mcloud

» Level Pemain: Buruk, Bagus, Sangat Bagus, Luar Biasa, Lionel Messi
Mon Dec 17, 2012 2:33 pm by mcloud

» O'Neill: Van Persie, Messi-nya MU
Mon Dec 17, 2012 2:02 pm by mcloud

» Chelsea Gagal Juara, Air Mata David Luiz Tumpah
Mon Dec 17, 2012 2:01 pm by mcloud

» Level Pemain: Buruk, Bagus, Sangat Bagus, Luar Biasa, Lionel Messi
Mon Dec 17, 2012 2:01 pm by mcloud

» 33% BONUS SELAMAT DATANG
Mon Dec 17, 2012 1:59 pm by mcloud

» Gabung Kasino 12BET dan terima CASHBACK TANPA BATAS HARI INI!
Mon Dec 17, 2012 1:58 pm by mcloud

» Promo Casino 12BET
Sun Dec 16, 2012 3:39 pm by mcloud

» LUCKY DRAW Hadiah Maksimum USD10,000
Sun Dec 16, 2012 3:38 pm by mcloud

» Ashley Cole Hengkang, Chelsea Bidik Fabio Coentrao
Sun Dec 16, 2012 3:35 pm by mcloud

» Tottenham Kembali Lirik Joao Moutinho
Sun Dec 16, 2012 3:34 pm by mcloud

» Swansea City Perpanjang Kontrak Neil Taylor
Sun Dec 16, 2012 3:34 pm by mcloud

» BONUS harian hingga IDR 600.000
Thu Dec 13, 2012 1:33 pm by mcloud

» 33% BONUS SELAMAT DATANG
Thu Dec 13, 2012 1:31 pm by mcloud

» Special Bonus Hari ini 50%.
Wed Dec 12, 2012 8:39 pm by zonaplay

» TRIPLE 12 LUCKY DRAW IDR 12,000,000!
Wed Dec 12, 2012 12:54 pm by mcloud

» 12-12-12 BONUS DEPOSIT!
Wed Dec 12, 2012 12:53 pm by mcloud

» Prediksi Cordoba vs Barcelona
Wed Dec 12, 2012 12:50 pm by mcloud

» Prediksi Parma vs Catania
Wed Dec 12, 2012 12:49 pm by mcloud

» Prediksi Monterrey vs Chelsea
Wed Dec 12, 2012 12:48 pm by mcloud

» LUCKY DRAW Hadiah Maksimum USD10,000
Tue Dec 11, 2012 3:16 pm by mcloud

» Ghost Rider Shocks Slot Players With 20 Free Spins And X3 Multiplier
Tue Dec 11, 2012 3:16 pm by mcloud

» Yaya Toure Peringatkan MU
Tue Dec 11, 2012 3:13 pm by mcloud

» 'Messi Masih Bisa Lebih dan Lebih Lagi'
Tue Dec 11, 2012 3:12 pm by mcloud

» Prediksi Roma vs Atalanta
Tue Dec 11, 2012 3:12 pm by mcloud

» APA ITU GOOGLE ADSENSE ?
Thu Dec 06, 2012 5:33 pm by Admin

» KOPASSUS Pasukan Elite Militer Indonesia Terhebat Ketiga di Dunia.
Wed Dec 05, 2012 2:00 am by Admin

» Bola Tangkas Banjir Royal. Banyak Joker Depan.
Mon Dec 03, 2012 7:21 pm by master

» Mengenal Presiden Republik Indonesia.
Thu Nov 29, 2012 2:12 pm by talkaz

» Macam-macam Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Negara Republik Indonesia
Fri Nov 23, 2012 3:26 pm by talkaz

» Lambang Garuda (Pancasila) Mengalami 3x Perubahan.
Fri Nov 23, 2012 3:24 pm by talkaz

» KALO BEGINI APA NAMANYA?
Tue Nov 20, 2012 3:58 pm by talkaz

» KALO LUCU KETAWA DONG.
Tue Nov 20, 2012 3:55 pm by talkaz

» Apa Itu Ciuman ?
Thu Nov 15, 2012 1:40 am by Admin

» Album Lyric Lagu Barat
Wed Nov 07, 2012 4:09 am by Admin

» HUMOR POLITIK
Mon Nov 05, 2012 4:12 pm by talkaz

» HUMOR UMUM DAN APA ADANYA
Mon Nov 05, 2012 4:07 pm by talkaz

» Memasang Search Engine di Blog Anda.
Sun Nov 04, 2012 1:16 am by Admin

» BACA 1001 HUMOR
Fri Nov 02, 2012 10:42 am by talkaz

» KUMPULAN ANEKDOT GUSDUR
Fri Nov 02, 2012 10:38 am by talkaz

» Renungkanlah...!
Wed Oct 31, 2012 12:30 am by Admin

» Hikmah Turunnya Hujan.
Tue Oct 30, 2012 3:08 am by coco.al.mahdi

» Zionis Israel Telah Menipu Profil Masjidil Aqsa.
Tue Oct 30, 2012 2:44 am by coco.al.mahdi

» Pernyataan Prof. Quraish Shihab soal Jilbab.
Tue Oct 30, 2012 1:38 am by coco.al.mahdi

» Kesalahan Gambar/Video Pada Topik Forum
Mon Oct 29, 2012 12:45 am by Admin

» TAFSIR MIMPI
Fri Oct 19, 2012 12:32 am by Admin

» Tataplah Gambar ini selama 30 detik.
Tue Oct 16, 2012 1:47 pm by talkaz

» Tanggal Lahir Anda = Kepribadian Anda?
Fri Oct 12, 2012 4:49 pm by coco.al.mahdi

Related Posts Plugin

PENDIDIKAN DAN HARAPAN NEGARA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

PENDIDIKAN DAN HARAPAN NEGARA

Post by Admin on Sat Sep 24, 2011 1:29 pm

Negara adalah sesuatu yang tidak bernyawa. Hanya akan bernyawa ketika individu-individu yang terpayungi didalamnya memberikan warna kehidupan.
Hitam putihnya sebuah negara tergantung pada warna apa yang ditorehkan komunitasnya.

Cita-Cita Negara

Esensi sebuah negara pada dasarnya adalah sebuah konvensi sosial.
Tak jauh beda dengan organisasi kemasayarakatan, dimana individu-individu yang dulunya tercerai berai kemudian menyatukan visi untuk mencapai tujuan bersama. Berangkat dari kepentingan ini maka dibentuklah sebuah lembaga yang bernama "Negara" untuk menjadi alat individu-individu mencapai kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan.

Kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan, adalah isu sentral yang secara kodrati telah melekat dalam bingkai keinginan manusia. Para pendiri negara yakin bahwa, dengan bersatunya individu dalam naungan institusi, maka kepentingan tersebut di atas akan lebih mudah diwujudkan. Meskipun ditengah keyakinannya mereka sadar bahwa untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan itu masih membutuhkan kajian-kajian intensif dengan pisau analisis yang kritis.. Sebab pencapaian cita-cita negara bisa dikatakan berada dalam kerangka evolutif.

Pemikiran tentang "Evolutif" kemudian melahirkan poin penting, bahwa perjalanan kedepan harus dikawal oleh nilai-nilai ideal agar tidak keluar dari koridor perencanaan semula. Pengawalan yang dimaksud adalah sebuah landasan normatif yang kelak akan dijadikan acuan dalam menentukan gerak langkah atau sebagai patron pergerakan. Landasan normatif ini kemudian dikenal dengan istilah " konstitusi ".

Di Indonesia misalnya, konstitusinya adalah UUD 1945. Aturan ini berada diatas puncak menara hierarki dari segala aturan yang berlaku.
Maksudnya, segala Undang-undang yang lahir kemudian tidak boleh bertentangan dengan isi Undang-Undang Dasar 1945.

Lahirnya konstitusi barulah merupakan langkah awal dalam menapak pencapaian cita-cita kolektif individu dalam negara. Pada fase ini adalah fase dimulainya perjuangan mempertahankan idealisme kebangsaaan.

Hubungan Negara dan Pendidikan

Kajian kenegaraan terus berlanjut, yang kemudian melahirkan kesepakatan baru bahwa untuk mendukung keberlangsungan perjuangan individu untuk mewujudkan cita-cita, diperlukan sebuah lembaga yang berfungsi sebagai wadah "Regenerasi" bangsa.

Tugas lembaga ini adalah untuk mencetak manusia-manusia yang layak mengemban tugas kenegaraan. Kelayakan yang dimaksud adalah manusia dinamis yang mampu bereksplorasi dengan dinamika zaman yang tentu saja sesuai dengan platform awal pergerakan yaitu pencapaian cita-cita
negara.

Lembaga regenerasi tersebut kemudian dibakukan menjadi lembaga pendidikan formal. Dalam wadah ini difokuskan bagaimana menemukan formulasi yang tepat untuk menciptakan individu seperti yang diharapkan. Akhirnya berbagai eksperimen terejawantahkan dalam kerangka penemuan formulasi tadi. Seperti penempatan wilayah pendidikan dalam naungan eksekutif, perombakan kurikulum, penciptaan UU Sisdiknas, dll.

Dengan lahirnya lembaga pendidikan formal diharapkan mampu meredakan keresahan negara. Sebab nadi keberlangsungan sebuah negara berada diatas pundak generasi pelanjutnya. Bagaimana sekiranya generasi yang diharapkan sebagai pelanjut perjuangan justru tidak mampu memikul beban tersebut? Kepada siapa negara akan meratap ?

Kondisi Obyektif.

Agar tidak melupakan titik kajian kita maka penulis mengingatkan bahwa diawal tulisan tadi telah dijelaskan bahwa negara adalah alat masyarakat untuk mencapai tujuan bersama yaitu kemakmuran, keadilan, kesejahteraan. Tujuan ini kemudian diperkuat dengan dituangkanya kedalam konstitusi UUD 45 pada alinea kedua yang berbunyi " . Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur".

Pada bagian ini penulis akan mengajak pembaca untuk menyimak secara obyektif segenap fenomena sosial kemasyarakatan yang terhampar dalam wilayah NKRI. Secara Makro penulis akan membagi menjadi tiga bagian wilayah yang akan kita simak, yaitu komunitas pelaku pendidikan,
masyarakat luas dan komunitas elit.

Pertama; pelaku pendidikan meliputi peserta didik, pendidik, dan para penentu kebijakan pendidikan. Peserta didik adalah ibarat data input yang akan diproses oleh pendidikan untuk diogodok menjadi manusia dinamis yang kelak diharapkan akan mengawal perjalananan negara. Namun ketika kita melihat wajah peserta didik kita dewasa ini, sepertinya harapan negara semakin teralienasi kedalam wilayah marginal.

Tawuran, narkoba, miras, pesta seks sudah tidak menjadi sesuatu yang asing dalam dunia peserta didik. Krisis moral, etika, dan kemanusiaan kiranya menjadi titik pandang kita ketika mencoba menelusuri kenyataan ini dalam hubungan kausalitas. Lebih ironis lagi karena ternyata yang seharusnya dianggap noda justru menjadi kebanggaan bagi mereka. Dalam kenyataan ini penulis menganggap bahwa dunia peserta didik terjebak kedalam "absurditas paradigma".

Pendidik adalah manusia dewasa yang diharapkan dapat mengarahkan dan membimbing peserta didik menjadi manusia yang utuh, sehingga kelak peserta didik tersebut mampu menjadi manusia kreatif, mandiri, menjunjung tinggi kaidah keilmuan, beriman pada penciptanya, dapat mengekspor potensi dirinya kedalam masyarakat, terbebas dari kebodohan, yang pada akhirnya bermuara pada pencapaian cita-cita luhur negara.

Begitu bertumpuknya beban yang dipikul oleh para pendidik, sehingga mungkin disatu sisi kita akan mempertanyakan "Benarkah fungsi pendidik sesuai dengan realitas?" Disaat seperti ini nurani kita harus mendapat ruang untuk berbicara bahwa semua itu hanyalah bayang-bayang utopis.
Para pendidik ternyata tidak mampu menjalankan fungsinya. Karena pada dasarnya mereka adalah manusia-manusia tidak berdaya yang berada dalam hegemoni rezim.

Dalam sistem pendidikan yang kita anut, para penentu kebijakan pendidikan juga berada dalam rantai birokrasi rezim. Sehingga merekapun tak berdaya dalam menggagas inovasi yang berbau revolusioner. Karena secara hierararki mereka terbentur pada lingkaran hegemoni.

Dalam dunia pendidikan kita, pernah hangat wacana tentang "Ganti Menteri Ganti Kebijakan". Pada masa orde baru misalnya berbagai kebijakan yang bergulir dalam dunia pendidikan pada dasarnya adalah kebijakan yang berdasar atas kepentingan tertentu. Dunia pendidikan tak lebih dari sekedar wahana indoktrinisasi ideologi. Padahal semestinya pendidikan berada dalam wilayah bebas nilai (Netral). Dalam arti bahwa kebijakan-kebijakan yang lahir betul-betul sesuai dengan platform pendidikan sebagaimana yang diharapkan oleh negara.

Beberapa kebijakan yang lahir pada masa Orde Baru antara lain : Pertama; Kebijakan "Daoed joesoef" dengan NKK/BKKnya (Normalisasi kehidupan kampus dan badan koordinasi kampus) yang tujuannya tidak lain adalah untuk membungkam suara-suara mahasiswa kritis yang dikhawatirkan akan meronrong kedaulatan status quo rezim. Kedua; Pergantian mata pelajaran "CIVIC" (Kewarganegaraan) mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara menjadi "PMP" (Pendidikan Moral Pancasila). Yang hanya menekankan pada ketaatan dan kepatuhan pada ideologi negara dan
kebijakan-kebijakan rezim, dengan harapan secara evolutif generasi tersebut tidak akan punya keberanian untuk berdiri pada pada wilayah oposisi. Dengan bahasa lain, generasi tersebut dikebiri menjadi manusia kerdil yang pegecut. Ketiga; Kebijakan "Nugruho Notosusanto" dengan menambahkan mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) pada kurikulum 1984 dengan titik tujuan para lulusan pendidikan formal memiliki apresiasi yang tinggi terhadap ABRI. Karena dalam mata pelajaran PSPB, sejarah perjuangan bangsa didramatisasi yang menempatkan ABRI pada posisi hero. Menurutnya perjuangan itu identik dengan komprontasi senjata. Sementara para diplomat tidak pernah dianggap sebagai pejuang.

Beberapa kebijakan pendidikan yang tertuang pada masa Orde Baru merupakan contoh kongkret manifestasi penghianatan terhadap pendidikan. Pendidikan hanya dipandang sebagai wilayah yang sangat kondusif untuk melancarkan strategi pertahanan status quo. Akhirnya harapan negara terhadap pendidikan semakin terlupakan.

Makanya tidak heran, kalau dulu sewaktu kita masih sekolah profil Indonesia yang diperkenalkan oleh para guru adalah bangsa yang damai, sejahtera, adil, makmur, egaliter, dan berbagai macam atribut kebangaan. Sementara jauh didunia luar nyaris kita tidak pernah menemukan realitas seperti yang disampaikan oleh para guru.

Kedua; Fenomena masyarakat luas. 1) Konflik horizontal yang terjadi dewasa ini, seperti kasus Ambon, Maluku, Sampit, Poso, disatu sisi dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah yang selama ini mengabaikan kepentingan masyarakatnya yang sudah mencapai titik kulminasi sehingga mengkristal menjadi gelombang resistensi yang tak berujung. Namun pada sisi yang lain mungkin dapat dimaknai sebagai akibat dari permainan politik primordial yang kemudian akhirnya memicu konflik. 2) Masyarakat awam menjadi sasaran empuk retorika politik bagi pemain politik yang ingin memperoleh legitimasi.
Masyarakat sebagai konstituen hanya dijadikan kuda tunggangan dalam pencapaian singgasana kekuasaan. Namun anehnya masyarakat tidak pernah jera dengan janji-janji muluk. Semua ini adalah akibat dari ketidakpekaan masyarakat dalam melihat realitas sosial.

Ketiga; Fenomena elit. Dalam hal ini sebagian individu yang duduk dalam jajaran Trias Politika (Legislatif, eksekutif, dan yudikatif) Secara makro penyakit yang melanda adalah seputar KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Analisis ketiga wilayah diatas, adalah bukti nyata ketidakberhasilan pendidikan dalam menjalankan fungsinya. Sebagaimana tujuan awal didirikannya Lembaga Pendidikan yaitu untuk menjawab kebutuhan negara tentang regenerasi. Sementara yang kita tahu para pelaku diatas adalah out put dari Lembaga pendidikan formal. Tapi mengapa sebagian dari mereka hanya manjadi rayap yang terus mengerogoti bangsa dan negara? Mungkinkah masih ada apologi untuk sekedar mengatakan pendidikan kita berhasil?

Akar persoalan

Bagi penulis, yang menjadi akar persoalan dari semua ketimpangan ini adalah berawal dari dunia pendidkan. Makna pendidkan semakin tereduksi kedalam wilayah yang hampa akan makna. Sehingga hasil dari semua itu adalah lahirnya manusia-manusia Individualis yang bertahta di atas
menara Hedonisme.

Tahta dan kemewahan adalah titik orientasi. Cara pandang bertumpu pada materialisme. Sehingga logika yang terbangun adalah bahwa penegasan status sosial dalam masyarakat tergantung pada bagaimana kita menampakkan kemewahan. Jalan tak jadi soal sepanjang itu memberikan
harapan kemewahan.

Nurani yang semakin tumpul tidak mampu lagi mengidentifikasi absurditas yang terhampar. Kesilauan dalam memandang prestise yang absurd dalam masyarakat kemudian membenuk manusia - manusia tersebut menjadi robot tak berperasaan yang bertelanjang moral. Sekali lagi penulis mengatakan bahwa manusia-manusia tersebut adalah out put dari pendidikan.

Jika kita kembali memaknai pendidikan dalam versi negara, bukankah negara tidak pernah berharap manusia-manusia seperti itu yang lahir dari pendidikan? Manusia yang diharapkan negara adalah manusia yang mampu meneruskan cita-citanya.

Jika demikian adanya, yang muncul dalam benak kita saat ini adalah kapankah negara kita akan karam? Sebab harapan negara semakin diselimuti kabut.

Langkah Solutif

Jika disepakati bahwa Pendidikan kita saat ini tidak mampu menghadirkan generasi yang diharapkan oleh negara, maka menurut hemat penulis, tidak ada alasan untuk tidak membenahi sistem pendidkan. Tentunya kita tidak ingin kesemrawutan sistem hari ini kemudian menjadi bingkai potret masa depan bangsa dan negara kita. Oleh karena itu penulis menggagas beberapa solusi yang mungkin bisa dijadikan referensi dalam perbaikan negara kedepan.

Jangka Pendek; 1) kesepakatan untuk mengembalikan pendidikan sesuai dengan fungsi dasarnya, yakni sebagai wadah pembentukan manusia utuh. 2) Perbaikan kurikulum, dengan penyeimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spritual (SQ). 3)
Peningkatan kualitas para pendidik. Dan 4) Berpedoman kepada Undang-Undang Dasar 1945.

Untuk Jangka Panjang; Gagasan tentang Lembaga Pendidkan yang independen.
Kalau "Montesque" menggagas tiga badan independen dengan Trias Politikanya. Penulis menganggap bahwa hal itu belum cukup. Akan tetapi dalam satu negara harus terdapat empat badan yang independen, yaitu legislatif, eksekutif, yudikatif, dan edukatif.

Asumsi yang mendasari pemikiran penulis adalah bahwa pendidkan tidak akan pernah berjalan sesuai dengan tujuan negara jika badan tersebut masih berada dalam wilayah yang sarat dengan muatan politis. Catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia selama kurang lebih 60 tahun merupakan saksi jatuh bangunnya dunia pendidikan kita. Olehnya itu gagasan diatas penulis anggap sebagai langkah awal dalam membumikan manifesto pendidikan dalam masyarakat.

Kesimpulan

Negara kita saat ini dalam keadaaan kusut masai menanti uluran tangan Dewa penolong. Krisis multidimensi membuat bangsa dan negara kita kian terperosok dalam keterpurukan. Kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan yang merupakan cita-cita awal negara ternyata sampai hari ini belum
menyentuh masyarakat secara signifikan.

Beragam realita sosial kemasyarakatan, seperti konflik etnis, ras, agama, gerakan separatis yang mengancam integrasi negara, disatu sisi sebenarnya merupakan wujud resistensi masyarakat. Sedangkan pada sisi lain mungkin akibat dari politik kotor. Namun sayangnya, penyebab dari
semua itu tidak pernah dikaji secara mendalam. Sementara masyarakat sendiri bersikap apatis dengan segala aturan yang berlaku. Mereka lebih senang menghakimi sendiri, meskipun itu lewat perang antar kelompok maupun antar individu. Semua itu akibat dari ketidakpercayaan masyarakat
terhadap hukum yang bersifat ambigu.

Para elit berlomba-lomba memburu tahta dan kemewahan, walau pada akhirnya harus berurusan dengan KPK. Mereka yang dipercaya oleh rakyat justru menghianatinya. Kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan hanyalah milik golongan elit. Sementara masyarakat bawah tak lebih dari sekedar figuran yang kemudian jadi penonton. Bukankah masyarakat juga berhak untuk diperlakukan sama?

Harapan negara terselubungi kabut. Sementara institusi pendidikan yang diharapkan mampu menerangi perjalanan negara juga dalam keadaan lumpuh.
Dari sinilah kita harus memetakan causa prima ketidakberhasilan negara mencapai cita-cita.

Jika tujuan didirikan negara masih disepakati seperti dalam tulisan ini, maka langkah yang harus ditempuh adalah perbaikan manusianya sebagai pelaku. Perbaikan ini hanya didapat dalam wilayah pendidkan.

Hal ini berarti bahwa titik awal yang harus kita benahi adalah wilayah pendidkan. Dengan gagasan solusi seperti diatas, penulis yakin bahwa kalau memang tidak untuk saat ini, setidaknya anak cucu kita kedepan akan menyongsong era Indonesia baru. Indonesia yang sejahtera, adil, makmur, dan egalitarian.

_______________________________________________

Thank You.
Master Administrator.

Admin
Admin

Jumlah posting : 1083
Points : 2385
Join date : 18.07.11
Lokasi : Jakarta - Indonesia

Penyandang Gelar
Jati Diri User: Pria Idaman

https://facebook.com/amazing.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik